Value investing is dead.
Kalimat itu kembali ramai ketika saham dengan cerita pertumbuhan melesat pada 2021. Banyak orang membandingkan kenaikan harganya dengan saham yang dianggap murah berdasarkan PE atau PBV, kemudian mempertanyakan kegunaan ajaran Benjamin Graham.
Saya ingin kembali ke hal yang membuat The Intelligent Investor layak dibaca. Graham memberi cara untuk memikirkan kepemilikan, menghadapi harga pasar, dan menyediakan ruang ketika analisis kita salah. Kerangka itu membantu kita bertindak ketika ekonomi dan suasana bursa berubah.
Saham adalah bagian dari bisnis
Di balik ticker ada perusahaan yang menjual produk, memakai modal, dan menghasilkan kas. Kepemilikan saham memberi bagian atas hasil ekonomi perusahaan tersebut. Nilainya perlu kita perkirakan dari kemampuan bisnis menghasilkan manfaat bagi pemilik.
PE dan PBV bisa membantu menyusun pertanyaan awal. Namun harga yang rendah terhadap satu angka akuntansi belum menjelaskan arus kas masa depan. Begitu pula multiple tinggi belum menjawab apakah perusahaan mampu menghasilkan nilai yang cukup untuk harga tersebut.
Value investing dimulai dari hubungan antara harga yang dibayar dan nilai yang diterima. Untuk menilai hubungan itu, investor perlu memahami bisnisnya. Formula penyaring saham belum menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Dalam note ini saya menyatukan pembacaan Graham dengan note 12 Agustus 2021 tentang The Five Rules for Successful Stock Investing karya Pat Dorsey. Graham membantu membangun cara berpikir. Pembahasan Dorsey membantu menyiapkan pekerjaan analisis yang diperlukan untuk menjalankannya.
Investor pintar perlu mengelola dirinya
Dalam pembacaan saya, intelligent berkaitan dengan kesabaran, kedisiplinan, dan kesediaan belajar. Kemampuan analisis berguna ketika kita juga mampu menahan keputusan yang dibuat karena emosi sesaat.
Investor menilai bisnis lalu memutuskan harga yang memberikan imbal hasil memadai dengan perlindungan terhadap kesalahan. Spekulasi bertumpu pada harapan bahwa seseorang kelak bersedia membayar lebih tinggi. Keduanya dapat terjadi di pasar, sehingga kita perlu jujur tentang dasar keputusan sendiri.
Satu jebakan muncul ketika laba diperkirakan naik dalam waktu dekat, lalu kenaikan tersebut dianggap cukup untuk membenarkan pembelian. Jebakan lain muncul ketika rekam jejak perusahaan dianggap pasti berulang. Cerita pertumbuhan yang belum terbukti juga dapat menyerap terlalu banyak harapan ke harga.
Apa yang sudah harus terjadi agar harga belimu masuk akal? Pertanyaan itu membantu melihat seberapa banyak keberhasilan masa depan yang sudah kamu bayar di awal.
Mr. Market datang membawa tawaran
Bayangkan sebuah barang yang menurutmu bernilai Rp15 juta. Hari ini seseorang menawarnya Rp25 juta. Besok orang lain menawarnya Rp8 juta. Perubahan tawaran tersebut belum memberi alasan bahwa fungsi dan manfaat barang itu berubah dengan besaran yang sama.
Di pasar saham, kita menghadapi tawaran harga setiap hari. Ada hari ketika optimisme mendominasi dan ada hari ketika orang ingin segera keluar. Graham menggambarkan perilaku itu melalui Mr. Market.
Investor punya kesempatan untuk menerima tawaran atau menunggu. Nilai bisnis perlu diperbarui ketika bukti operasinya berubah. Fluktuasi harga memberi bahan keputusan ketika harga mencapai tingkat yang sesuai dengan penilaian kita.
Pada akhirnya, pertumbuhan bisnis punya batas. Tingkat pertumbuhan yang tinggi akan menghadapi skala yang membesar, persaingan, serta kebutuhan modal tambahan. Karena itu, saya berhati-hati dengan proyeksi yang meneruskan kondisi terbaik untuk waktu terlalu panjang. Harga belinya perlu memberi ruang ketika pertumbuhan melambat.
Margin of safety memberi ruang untuk salah
Mengestimasi nilai intrinsik melibatkan masa depan. Kita bisa salah membaca margin, kebutuhan investasi, atau daya tahan keunggulan perusahaan. Margin of safety memberi jarak antara harga beli dan estimasi nilai untuk menampung sebagian kesalahan tersebut.
Contoh amplop membantu melihat matematikanya. Jika amplop diperkirakan berisi Rp100.000 dan dibeli Rp60.000, margin of safety adalah 40%. Upside menuju Rp100.000 sekitar 67%, karena persentase keuntungan dihitung dari harga beli.
Coba turunkan nilai yang kamu perkirakan. Perhatikan apakah harga beli masih memberi bantalan.
Bayangkan amplop yang kamu perkirakan berisi Rp100.000. Harga yang dibayar menentukan bantalan saat estimasimu meleset.
Awalnya 40%
Masih ada jarak antara harga beli dan nilai yang sudah dikoreksi.
Analogi amplop dari catatan 26 Agustus 2021. Dalam bisnis nyata, nilai adalah estimasi; contoh ini tidak mengukur semua risiko atau menjamin hasil investasi.
Harga Rp40.000 untuk nilai yang sama memberi margin of safety 60% dan upside 150%. Namun dalam bisnis nyata kita harus lebih dahulu memastikan bahwa estimasi nilainya punya dasar. Harga turun juga bisa disertai memburuknya kemampuan perusahaan menghasilkan kas.
Tidak ada persentase margin of safety yang cocok untuk semua perusahaan. Lebarnya perlu mengikuti ketidakpastian yang kita hadapi, serta alternatif penggunaan modal. Estimasi yang rapuh membutuhkan ruang lebih besar dan kadang membuat kita memilih untuk lewat.
Epilog yang membuat saya membaca Graham lagi
Bagian tentang GEICO dalam epilog The Intelligent Investor memberi pelajaran yang melekat buat saya. Graham dan Newman mengambil bagian kepemilikan pada perusahaan asuransi yang sedang bertumbuh, kemudian mendapat hasil besar dari kepemilikan yang dipertahankan.
Kisah tersebut menunjukkan kemungkinan nilai bisnis yang terus bertambah selama modal produktif dapat ditanam kembali. Pada perusahaan semacam itu, menjual setelah satu kenaikan harga dapat mengakhiri partisipasi kita terlalu cepat.
Saya membacanya sebagai ajakan untuk memahami kualitas bisnis dan tempat reinvestasinya. Nilai intrinsik bukan angka yang selamanya tetap. Bila perusahaan tumbuh secara produktif, estimasi nilainya ikut bergerak. Penilaian harga harus diperbarui bersama perubahan tersebut.
Itulah kaitan yang membuat saya tertarik pada quality compounder. Perusahaan yang bagus masih perlu dibeli dengan harga yang masuk akal, dan kualitasnya perlu dipantau selama dimiliki. Prinsip harga terhadap nilai tetap bekerja ketika kita mempelajari bisnis yang sedang tumbuh.
Bagaimana mulai mengerjakan riset?
Banyak investor pemula kesulitan menerjemahkan pembacaan Graham menjadi pekerjaan sehari-hari. Dalam note saya tentang Pat Dorsey, The Five Rules for Successful Stock Investing menjadi pintu masuk yang lebih praktis untuk memahami perusahaan dan karakter industrinya.
Dorsey mengajak investor mengerjakan riset sendiri, menemukan keunggulan yang bertahan, memberi margin of safety, memegang investasi untuk jangka panjang, dan mengenali alasan menjual. Kamu perlu dapat menjelaskan cara bisnis menghasilkan uang sebelum menaruh modal di dalamnya.
Mulai dari arus kas
Laporan arus kas memperlihatkan kas yang masuk dan keluar selama periode berjalan. Baca bersama laba rugi serta neraca untuk memahami penagihan, persediaan, belanja modal, dan pendanaan. Pertumbuhan laba bisa membutuhkan modal kerja yang semakin besar, sehingga kas yang tersisa bagi pemilik tidak selalu bertambah dengan kecepatan yang sama.
Free cash flow membantu menghubungkan operasi dengan kebutuhan investasi. Perusahaan menciptakan nilai ketika modal yang ditanam menghasilkan imbal hasil yang layak. Sesudah membiayai kebutuhan bisnis, kas yang tersedia bagi pemilik menjadi dasar penting untuk valuasi.
Cari sumber economic moat
Mulai dari profitabilitas historis. Telusuri apa yang membuatnya mungkin, lalu perkirakan seberapa lama sumber tersebut bertahan. Periksa juga bagaimana pesaing dapat menyerang posisi perusahaan.
Merek, skala, hubungan pelanggan, atau teknologi baru memberi manfaat investasi ketika keunggulan tersebut menghasilkan arus kas yang sulit direbut. Pelajari mekanismenya lewat contoh perusahaan.
Berhati-hati dengan jebakan yang mudah dikenali
Cinta pada produk dapat membuat kita lupa menilai harga sahamnya. Mengejar cerita “the next” dapat membuat kita membayar pertumbuhan yang belum terbukti. Mengabaikan valuasi membuat kualitas bisnis gagal diterjemahkan menjadi hasil investasi yang layak.
Saya juga ingin menghindari keputusan yang sepenuhnya mengikuti kepanikan pasar. Sebelum mengubah posisi, lihat apa yang berubah pada bisnis dan apakah analisis awal masih dapat dipertahankan.
Kapan perlu meninjau kepemilikan?
Harga yang naik atau turun saja belum menjelaskan apakah tesis bisnis masih bekerja. Alasan yang lebih berguna adalah menyadari kesalahan analisis, melihat fundamental memburuk, atau menemukan harga yang sudah melampaui nilai dengan jarak yang sulit dibenarkan.
Peluang lain dapat memberi hasil yang lebih baik untuk risiko yang sama. Konsentrasi portofolio juga dapat menjadi terlalu besar bagi keadaan pribadi kita. Keduanya memberi alasan untuk menilai kembali alokasi modal.
Bersedia mengoreksi kesalahan adalah bagian dari menjadi investor. Setiap keputusan sebaiknya bisa ditelusuri kembali ke bukti dan asumsi yang digunakan saat membeli.
The Intelligent Investor terus berguna bagi saya karena pekerjaan tersebut selalu ada. Ekonomi berubah, tawaran harga berubah, dan kita terus perlu memutuskan apakah manfaat yang akan diterima sepadan dengan modal yang dilepas hari ini.
Sumber & metode
Menggabungkan The Intelligent Investor Akan Selalu Relevan (26 Agustus 2021) dan Investor Pemula Wajib Baca Buku Ini (12 Agustus 2021), keduanya oleh Fachry Nuzuli di INVESTABOOK.
Prinsip Graham dan Dorsey diparafrase dari pembacaan penulis dalam dua note tersebut. Contoh margin of safety menggunakan analogi amplop dari naskah asli. Edisi ini mengembangkan contoh itu menjadi simulasi koreksi nilai.
Angka historis mengikuti bahan penulis dan pembulatannya. Simulasi diberi asumsi tersendiri. Note ini merupakan referensi analisis historis; perkembangan setelah tanggal riset belum dicakup.