← Back to essays
POULTRYBusinessESSAY / 2021

Game of Future: Cyclicality Sektor Poultry vs Peluang Hilirisasi

Kuartal I 2021 menjadi titik balik bagi pelaku sektor poultry. Namun para pelaku sektor poultry masih belum dapat tidur tenang. Mengapa?

Cyclicality Sektor Poultry

Segala jenis komoditi sangat rentan terhadap eksposur supply & demand dari para pelaku pasar. Sehingga, setiap komoditi —tanpa terkecuali— selalu dibayangi dengan ketidakpastian harga jual.

Terkadang harga jual memang bisa melambung sangat tinggi dikarenakan demand meningkat atau supply menipis. Namun, setiap kali terjadi peningkatan demand, para produsen akan mulai menggenjot produksi komoditasnya.

Pada akhirnya justru supply-lah yang menjadi terlalu menumpuk yang kita kenal dengan sebutan oversupply. Keadaan ini memiliki efek yang signifikan sehingga harga jual komoditas bisa berada dibawah HPP (Harga Pokok Produksi).

Seluruh proses yang berkesinambungan ini disebut sebagai cycle (siklus). Tingkat kesensitifan suatu industri terhadap supply & demand biasa disebut cyclicality atau siklikalitas.

Well, yes.
Siklikalitas dari sektor poultry adalah salah satu yang terparah.

Sejak dahulu, perusahaan peternak ayam di Indonesia (selanjutnya disebut peternak) sudah menyadari hal ini.

Namun sejak dahulu pula, mereka memilih untuk melawan bayangan oversupply dengan tetap bermain di siklikalitas harga komoditas ayam.

Bisa dibilang, cyclicality sektor poultry ini adalah lapangan favorit para peternak ayam di Indonesia.

Setiap hari peternak melakukan produksi ayam, sembari berharap harga jualnya bisa berada di atas HPP.

Jika harga jual di pasar bisa di atas HPP, maka peternak akan semringah karena artinya peternak berhasil mencetak laba.

Namun sayangnya, hasil akhir sering kali tidak berpihak kepada para peternak. Sebab harga ayam yang diperdagangkan di pasar justru sering kali berada sangat jauh dibawah HPP.

Hal ini bisa terjadi karena musuh besar tidak terlihat bernama oversupply.

Oversupply sangat senang menyerang para peternak ayam. Seperti yang terjadi di sepanjang 2020 kemarin.

Babak 1: Tumbang di 2019

Serangan telak pada sektor poultry di tahun 2020 kemarin, sebenarnya sudah dimulai setahun sebelumya.

Sejak 2019, para peternak ayam berada dibawah tekanan oversupply yang kuat.

Bahkan pada waktu terburuk di tahun 2019, peternak hanya bisa menjual ayam seharga Rp 8.000/kg, padahal menghabiskan biaya modal hingga Rp 18.000/kg. Itu adalah kerugian 125 persen!

Jika ternyata ada modal operasional lain yang dibutuhkan, maka kerugian yang dialami bisa jauh lebih parah!

Oversupply 1, Peternak Ayam 0!

Babak 2: Tak Berdaya di 2020

Sektor poultry sudah menghadapi tantangan oversupply sejak tahun 2019 lalu. Namun, itu tidak menjadi halangan bagi "the worst" untuk tiba. Headwind semakin kencang karena COVID-19 telah datang.

Sudah jatuh, tertimpa tangga.

Sudah babak belur dihajar oleh oversupply, malah dibuat tak berdaya oleh penurunan demand dari masyarakat.

Kejatuhan harga broiler dan DOC terjadi pada tahun 2019 akibat oversupply. Lalu disusul oleh penurunan demand akibat lemahnya daya beli masyarakat karena pandemi COVID-19, menjadi pukulan beruntun bagi peternak ayam yang ada di Indonesia tanpa terkecuali.

Mulai dari peternak dengan struktur permodalan kecil, hingga peternak dengan skala ekonomi besar seperti CPIN, JPFA dan MAIN.

"Harga ayam di kandang mencapai titik terendah yaitu Rp5.000 per Kg,"
Haris Azhar, Direktur Eksekutif Lokataru ketika berbicara soal "4 Persoalan Peternak Ayam di Tengah Pandemi."

2-0 untuk oversupply!

Menanggapi kondisi pelik ini, pemerintah Republik Indonesia, melalui Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan berbagai upaya intervensi untuk menstabilkan supply & demand komoditas hidup ini. Hasilnya pun mulai kelihatan di awal tahun 2021.

Babak 3: Bangkit di 2021; Dibantu Pemerintah

Harga jual ayam broiler pun akhirnya merangkak naik. Apakah peternak comeback?

Trend kenaikan harga broiler dan DOC mulai kelihatan sejak akhir kuartal IV 2020, dan dilanjutkan stabil pada kuartal I 2021.

Dampaknya terhadap sektor poultry pun cukup signifikan. Dapat dilihat dari salah satu leading business sektor poultry yang sudah mempublikasikan laporan keuangan kuartal I 2021 yaitu JPFA.

Kinerja membaik. Peternak akhirnya mencuri poin.

Oversupply 2, peternak 1!

Namun yang menjadi pertanyaan adalah bantuan seperti apa yang diberikan oleh pemerintah?

Intervensi Pemerintah Terhadap Circulating Supply

Intervensi pemerintah bukanlah hal asing di sektor poultry. Salah satu intervensi yang paling sering dilakukan —serta cukup efektif— adalah culling (pengafkiran).

Culling adalah pemisahan ayam yang kurang berkualitas yang berkemungkinan untuk memiliki pengaruh negatif terhadap produksi atau performa turunan ayam tersebut. Ayam yang buruk dan tidak produktif akan dipisah dari kawanan. Dan ayam dengan kualitas individu terbaiklah yang akan lanjut diternakkan.

Culling dilakukan pada ayam Final Stock (FS) dan Parent Stock (PS). Culling sendiri telah dilakukan sepanjang 2020. Namun seperti masih kurang, culling tetap gencar dilakukan di tahun 2021.

Adanya intervensi berupa culling ini hampir pasti dapat mendorong pemulihan harga jual karena jumlah supply yang dipangkas tergolong masif. Oleh karena itu, hal seperti ini mustahil dilakukan tanpa ada campur tangan pemerintah.

Selain program culling, pemerintah juga memberikan instruksi kepada integrator unggas untuk membantu menyerap supply yang ada pada peternak dan tidak menjual kembali ke pasar tradisional.

Seperti yang bisa kita lihat. Intervensi pemerintah menunjukkan hasil yang cukup baik. Harga jual ayam broiler dan DOC di tingkat peternak akhirnya menanjak.

"Akan tetapi, berapa lama kestabilan supply ini bisa bertahan?"

Berapa lamapun jawabannya, peternak ayam tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang oversupply. Perlu ada pembenahan menyeluruh agar cara pandang peternak dalam menghadapi risiko oversupply bisa di-adjust. Sehingga peternak dapat keluar dari bayang-bayang oversupply.

Menuju Babak Baru

Pemangkasan supply adalah berita baik bagi sektor poultry. Walaupun perlu dicatat, dampak dari pemangkasan supply hanya bisa dirasakan untuk jangka waktu relatif singkat.

Maka dari itu, peternak ayam harus sadar bahwa:

Selama peternak masih bermain di area cyclicality komoditi, odds tidak akan berpihak kepada mereka.

Sekalipun pemerintah boleh ikut campur menghadapi serangan oversupply, tetap saja nature dari intervensi culling adalah pengobatan, bukan pencegahan.

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Sigit Prabowo yang merupakan Ketua Harian gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) kepada Poultry Indonesia.

“Untuk menstabilkan harga ayam hidup dalam jangka panjang tidak bisa hanya dikerjakan dengan solusi jangka pendek saja, melainkan pemerintah juga berkewajiban dalam membangun rencana produksi yang terukur, seimbang dan berkesinambungan.”

Sigit Prabowo, Ketua Harian GOPAN

Peternak hanya boleh melawan cyclicality komoditi di lapangan yang berbeda. Lapangan tersebut bernama "hilirisasi."

Lapangan Baru: Hilirisasi Sektor Poultry

Hilirisasi pada sektor poultry sebenarnya tidak sesulit hilirisasi nikel atau batubara. Jika bentuk hilirisasi 2 objek sebelumnya masih asing di Indonesia, hilirisasi pada sektor poultry justru sudah sangat umum di mata masyarakat.

Bentuk hasil hilirisasi yang dimaksud adalah industri pascapanen atau downstream yang merupakan daging ayam olahan.

Sayangnya, volume penjualan daging ayam olahan masih kalah jauh dibandingkan penjualan daging ayam broiler segar.

Ketika komoditas sumber daya alam lain "dipaksa" untuk melakukan hilirisasi demi mengejar potensi margin laba yang lebih besar, komoditas hidup seperti ayam-ayaman masih ditangani secara tradisional.

Padahal, transformasi dari pembibitan menuju daging olahan dapat memitigasi efek volatilitas harga jual ayam yang fluktuatif serta berpotensi memberikan margin laba yang jauh lebih besar.

Babak 4: Ganti Kualitas Revenue

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki ekosistem sektor poultry dalam jangka panjang adalah pembenahan industri pascapanen atau downstream dengan cara mengubah barang mentah menjadi barang jadi.

Ayam adalah komoditas hidup, industri biologis yang terbukti sulit untuk mengontrol supply-nya. Belum lagi ancaman eksternal yang bisa datang kapan saja. Seperti wacana impor ayam karkas dari Brazil yang baru saja memenangkan gugatan di WTO.

Oleh karena itu, jika tidak ingin berputar di permasalahan yang sama terus menerus setiap tahun, mau tidak mau pelaku sektor poultry harus mengganti kualitas revenue-nya. Bermigrasi dari segmen yang volatil dan cenderung merugi, ke segmen yang berpotensi memberikan margin laba lebih tebal.

Contoh nyata keberhasilan hilirisasi menuju segmen pascapanen ada pada CPIN.

Data laporan keuangan FY 2020 CPIN menunjukkan bahwa segmen makanan olahan mampu menyumbang 16% gross profit, padahal hanya mewakili 9% revenue.

FY2020 DAN RATA-RATA 5 TAHUNEXPLORE THE FIGURE ↙
Kontribusi makanan olahan CPIN
Laba kotor · %
FY202016%
Rata-rata 5 tahun17%
Skala tetap: 0 sampai 100 % · — = data tidak tercantum
Lihat data lengkap
Periode / kelompokLaba kotor (%)Penjualan (%)
FY2020169
Rata-rata 5 tahun177

Rekonstruksi parsial dari angka dalam naskah 15 Juni 2021, bagian “Babak 4: Ganti Kualitas Revenue”; gambar asli belum tersedia untuk rekonsiliasi. Rata-rata lima tahun mengikuti cakupan yang disebut penulis; tahun individual tidak tersedia dalam teks.

Jika melihat rata-rata 5 tahun terakhir, segmen makanan olahan mampu menyumbang 17% Gross Profit, padahal hanya mewakili 7% Revenue. Sangat profitable, bukan?

Namun perlu diingat, transformasi bisnis dari penjualan barang mentah menjadi penjualan barang jadi bukanlah hal mudah. Serta tidak ada jaminan akan langsung berhasil!

Pelaku sektor poultry lain yang juga terdaftar di BEI seperti JPFA dan MAIN juga sudah melakukan hilirisasi segmen makanan olahan. Walaupun kontribusinya masih belum signifikan.

Untuk tahun 2020, JPFA memang berhasil membukukan laba operasi yang cukup "lumayan" setelah 2 tahun berturut-turut mengalami rugi operasi. Segmen ini pun pada akhirnya mampu berkontribusi atas 5% laba operasi keseluruhan.

Kondisinya sedikit berbeda pada MAIN. Perusahaan nomor 3 di sektor poultry ini masih mengalami rugi operasi dari segmen makanan olahan.

Namun bisa dilihat bahwa segmen makanan olahan MAIN masih terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Juga perlu dicatat bahwa segmen makanan olahan hanya berkontribusi 2% terhadap revenue MAIN.

Perbedaan skala ekonomi antara CPIN dengan JPFA dan MAIN membuat kinerja segmen makanan olahan JPFA dan MAIN menjadi bahan tertawaan.

Kalau begitu "Sulitkah untuk mendulang profit di industri makanan olahan?"

Tentu saja.

Namun daripada terus-terusan bermain dengan pola yang sama sambil berharap hasilnya akan berbeda —layaknya petinju kehabisan harap yang melempar jab yang itu-itu saja— kami pikir lebih baik bagi peternak untuk mengambil risiko terukur dengan mencoba taktik baru yang memiliki probabilitas kemenangan yang lebih besar.

Untuk peternak modal kecil, bisa dimulai dari investasi ke penjualan ayam karkas dengan target HOREKA (Hotel, Restoran, Katering).

Sementara untuk peternak modal besar seperti JPFA dan MAIN, bisa mencoba commit ke segmen ini dengan target penjualan lebih besar serta investasi berupa iklan dan promosi.

Pelaku industri poultry yang nantinya mampu mengadopsi keberhasilan CPIN dengan memberikan nilai tambah kepada barang jualannya, tentu lebih berpeluang untuk menaklukkan bayangan oversupply yang selalu menghantui mereka selama ini.

Oversupply 2, Peternak 2?

Babak Akhir: Opportunity Ahead!

Ketika peternak sudah memutuskan untuk beralih ke hilirisasi, boleh dikatakan bahwa peternak mengincar kemenangan telak melawan bayangan oversupply. Maka untuk menutup pertandingan dengan kemenangan, peternak harus menyiapkan satu pukulan terakhir. coup de grâce!

Apa pukulan terakhirnya?

Potensi untuk transisi dan terus bertumbuh!

Potensi 1: Target Pasar Baru

Survey dari hexaresearch.com menunjukkan peluang emas dengan targt pasar baru untuk segmen makanan olahan. Ada 68 juta populasi muda-mudi usia 10-24 tahun (28% total populasi) yang menyatakan lebih memilih makanan modern siap santap (ready-to-eat modern food).

Potensi 2: Target Pasar Middle Class

Jangan pula melupakan pertumbuhan target pasar kalangan middle class yang pada 2020 lalu meningkat menjadi 80 juta jiwa.

Corporate Presentation MAIN Q121

Potensi 3: Pertumbuhan Konsumsi Daging Unggas per Kapita

Apalagi secara historis dari 2009 hingga 2019, konsumsi daging per kapita Indonesia terus bertumbuh hingga menyentuh CAGR 7.1%. Mengalahkan pertumbuhan GDP (Gross Domestic Product) per kapita dengan CAGR 4.1% pada kurun waktu yang sama.

IMF, WEO, Corporate Presentation JPFA Q121

Potensi 4: Ruang untuk Bertumbuh

Potensi pertumbuhan yang melimpah akan percuma bila tidak ada ruang yang cukup untuk bertumbuh.

Namun ternyata, berdasarkan data dari Frost & Sullivan 2020, konsumsi daging unggas per kapita Indonesia termasuk salah satu yang terendah di Asia. Ruang untuk bertumbuh masih terbuka lebar!

Frost & Sullivan 2020, Corporate Presentation JPFA Q121

Keberadaan target pasar potensial yang sedang bertumbuh pesat, pertumbuhan tingkat konsumsi yang lebih cepat daripada pertumbuhan GDP, serta ruang untuk bertumbuh yang masih terbuka lebar.

Kombinasi yang sangat menjanjikan, bukan?

Pada tahap ini, tidak akan ada lagi yang terkejut bila peternak ayam berhasil mengungguli bayangan oversupply.

Karena memang para peternak telah memilih untuk bermain di wilayah yang berbeda.

Karena melawan risiko oversupply di wilayah siklikalitas sama saja dengan memaparkan diri kepada risiko yang tidak terukur.

Oversupply 2, peternak ayam 3?!

Growth Story, Still (just) a Story

Babak ke-4 dan 5 yang dilakukan di lapangan baru bernama "hilirisasi" tersebut adalah "kisah pertumbuhan."

Bisa benar-benar terjadi, bisa juga tidak sama sekali.

Peternak yang tidak tertarik untuk fokus ke segmen downstream, kemungkinan besar menolak untuk percaya "kisah indah" tersebut. Atau bisa jadi karena sangat menikmati pertarungan melawan siklikalitas komoditi itu sendiri.

Namun peternak yang sudah tidak sanggup bertarung, pasti mencari cara agar bisa meredam efek siklikalitas komoditi.

Berdasarkan data yang ada saat ini, cara yang paling masuk akal adalah dengan berinvestasi untuk melakukan diversifikasi ke industri downstream.

Investasi awal adalah tahap yang krusial. Tidak mudah, serta tidak murah dari segi waktu maupun pendanaan. Pun tidak ada yang namanya jaminan keberhasilan.

Perlu diingat bahwa tambahan nilai pada barang jualan, sama dengan tambahan beban yang harus dibayarkan untuk proses produksi. Walaupun terkadang jumlahnya tidak ekuivalen.

Maka dari itu, pilihan dikembalikan kepada peternak ayam.

Ingin bertahan melawan risiko siklikalitas komoditi ayam, atau mencoba mengurangi dampak siklikalitas dengan melakukan diversifikasi ke industri pascapanen/downstream?

Catatan untuk investor, seindah apapun growth story yang diperdengarkan, tetap tidak ada cukup alasan untuk berbagi risiko yang sama dengan peternak yang baru mencoba menjejaki growth story tersebut.

Daripada berbagi risiko dengan peternak sembari menunggunya berhasil membangun jaringan terintegrasi dari upstream (DOC) ke downstream (pascapanen/daging olahan), lebih baik berinvestasi kepada peternak yang sudah berhasil dan memiliki profitabilitas tinggi serta masih berpotensi untuk compounding di masa depan.


DISCLAIMER:

Artikel di atas dibuat semata untuk tujuan penyediaan referensi dan edukasi, bukan rekomendasi untuk keputusan keuangan dan investasi tertentu. Setiap pihak bertanggung jawab penuh atas keputusan keuangan dan investasi yang dibuatnya sendiri.

Penulis tidak memiliki posisi di saham CPIN, JPFA dan MAIN. Analisis dibuat berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan dimuat sebagaimana adanya.

Sumber & edisi

Naskah oleh Fachry Nuzuli, pertama terbit 15 Juni 2021. Edisi digital: 6 Oktober 2026. Batas informasi: 15 Juni 2021, menggunakan tanggal publikasi sebagai batas atas.

Isi naskah dan urutan pembahasan dipertahankan. Keterangan sumber di setiap visual menjelaskan data yang tersedia. Gambar yang belum tersedia ditandai pada posisinya.

Publikasi asli ↗